Membenci atau Mendoakan.

Ini sekitar pikiran saya tentang segala sesuatu yang berkembang berkat kemajuan pemakaian dan manfaat media sosial. Dalam setiap aplikasi Whatsapp seseorang saat ini bisa di pastikan kita semua memiliki lebih dari 2-3 group dimana kita sebagai anggotanya. Ya... begitulah mungkin jaman sudah membuat kebanyakan orang memiliki ketertarikan yang lebih untuk bersosialisasi lebih luas lagi.

Namun saat bertambahnya kegiatan bersosialisasi saat ini, saya sangat menyayangkan betapa sudah pada saat taraf mengganggu dan mengkhawatirkan efek negatif akibat pemojokkan, kebencian, diskriminasi, yang dulu sebeumnya hidup bersosialisasi terasa lebih aman dan nyaman. Tapi dalam konteks ini saya tidak bicara tentang unsur politik dan lain sebagainya yang menyebabkan hal-hal seperti ini berhembus begitu kencang hampir seperti tornado. Saya tidak berada pada taraf pemahaman sejauh itu.

kekhawatiran saya adalah banyak orang mengurusi hal-hal yang jauh dari mata dan telinganya. Seolah-oleh mata dan telinganya menyentuh semua aspek yang di sebarkan. Tapi apa mata dan telinga mereka menyentuh lingkungan sekitarnya, tetangga, anak-anak, saudara, orang tua, sanak famili, dll. Ini semua tentang personal kita semua.



Memilih untuk membenci atau mendoakan adalah hak setiap orang. Toh itu yang di sebut pilihan pribadi. Hanya yang membuat risih ketika pilihan itu di tularkan kepada banyak orang. Saya khawatir kita lupa mendahulukan doa daripada rasa benci. Saya bukan benci, lebih kepada khawatir. Dulu waktu saya kecil ketika ada orang sekitar yang berbuat hal-hal tidak baik dan tidak mempan lagi dengan teguran akan banyak orang berkata saatnya " KITA DO'AKAN SAJA".

Jika kita melihat sebuah keburukkan maka rubahlah dengan tanganmu, jika tidak bisa dengan lisanmu, jika tidak bisa juga maka dengan hatimu lewat do'a. Sepertinya kira-kira begitu dari perspektif agama yang saya anut kurang lebih. Masalahnya kebencian yang tersebar saat ini mengenai hal-hal yang tidak terkonfrontasi dengan langsung kepada objek yang di tuju. Kebencian disebarkan terkesan seperti opini bukan fakta. Ketika di jaman semua orang bertaraf pendidikan tinggi, mempunyai peluang dan akses untuk mengetahui berbagai hal kenapa tidak bisa saya terutama mendapatkan sesuatu yang disajikan dalam bentuk fakta. Atau jika seseorang yang ingin memberitakan sesuatu, bolehkah jika dia mencari keabsahannya terlebih dahulu. Bukan hanya sekedar berlomba-lomba membagikan kue yang tampaknya halal namun terkandung haram.

Pleaaaseeee... saya juga ingin sekali mengetahui segala kebenaran yang suatu waktu di bicarakan banyak orang. Apalagi jika itu terkait dengan aktifitas saya secara pribadi. Tapi saya sendiri terus terang bingung mencari dimana. Karena opini yang terkirim kesana kemari sudah menjadi seperti fakta.

Seandainya saya hidup di jaman Rasulullah SAW... apakah dia akan membiarkan ini terjadi? Sudah barang tentu TIDAK. Bahkan doa-doa akan iya tiup kepada banyak keburukkan dan kebencian. Saya sebagai manusia, terlintas dalam benak saya.... Kenapa Allah menciptakan banyak makhluk hidup dalam berbagai bentuk, berbagai warna, berbagai manfaat, berbagai etnis/ suku bangsa? Apakah untuk saling benci?

Saat ini, saya hanya dalam posisi mengamati mereka yang menyuarakan semua itu. sambil terus mencari sis kebenaran yang saya harap masih ada yang mau meluruskannya. Semoga Allah Swt melindungi saya dan orang-orang terdekat saya khususnya dari hidupnya kebencian di dalam hati, begitu pula untuk semua yang membaca postingan saya. Semoga Rahmat dan Hidayah Allah dapat menunjukkan kita pada kebenaran yang sebenar-benarnya.

Wawlahulambisshowaf....

Comments

Popular posts from this blog